RSS
Hello! Welcome to this blog. You can replace this welcome note thru Layout->Edit Html. Hope you like this nice template converted from wordpress to blogger.

Berperang tanpa senjata




Berperang, terkadang tidak perlu menggunakan senjata. Justru hanya dengan niat baik yang tulus, keberanian, serta tekad yang kuat, seseorang akan mendapatkan kemenangan yang lebih dari sekadar menang perang.

Hal ini tercermin dalam Film yang diangkat dari kisah nyata, Escape from Huang Shi. Diawali dengan kisah seorang jurnalis muda asal Inggris, George Hogg (Jonathan Rhys Meyers) yang tertangkap oleh tentara Jepang ketika ia sedang meliput perang sipil Cina melawan Jepang dalam Perang Dunia II.

Sebelum eksekusi, Hogg diselamatkan oleh pemimpin gerilya aliran Komunis, Chen Hansheng (Chow Yun Fat). Ia pun dibawa Chen alias Jack ke barak dan dirawat oleh perawat Australia bernama Lee Pearson (Radha Mitchell). Untuk memperbaiki kemampuan bahasa mandarin Hogg yang kurang bagus, Lee meminta Chen untuk menempatkan Hogg di sebuah daerah bernama Huang Shi.

Setibanya di sana, Hogg baru menyadari kalau tempat itu adalah panti asuhan kumuh dengan puluhan anak kecil. Adapun Lee, di balik rutinitasnya sebagai perawat, ternyata juga kerap berkeliling daerah terpencil untuk memberi bantuan beras dan obat-obatan, salah satu tempat yang didatanginya adalah bangunan bekas sekolah tersebut.

Lee bermaksud meminta Hogg menjadi penjaga anak-anak itu. Mengetahui hal itu, Hogg pun menolak dan berniat pergi. Namun, rencana itu batal, karena Hogg ternyata sudah jatuh hati dengan kepolosan anak-anak tersebut. Ia pun mengajari mereka banyak hal, seperti bahasa Inggris dan cara berkebun. Hasilnya ia tukarkan dengan kebutuhan sehari-hari yang diperoleh dari seorang janda kaya, Mrs. Wang (Michelle Yeoh).

Ketika tentara Jepang sudah mulai mendekati tempat tinggal mereka, Hogg pun membawa 60 anak-anak ini mengungsi ke daerah yang lebih aman. Lee, Chen dan Hogg pun memulai perjalanan melewati pegunungan bersalju dan padang gurun sejauh hampir seribu mil.

Dengan keteguhan hati yang luar biasa, Hogg mampu menyelamatkan anak-anak ini. Tapi, tak lama mereka tiba disana, Hogg terserang tetanus dan meninggal.

Jonathan Rhys Meyers cukup pantas berperan sebagai tokoh utama, penampilannya yang mempesona serta aktingnya yang menonjol meninggalkan kesan yang dalam pada film ini. Begitu pula acting Chow Yun Fat dan Michelle Yeoh yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Berbeda dengan Radha Mitchell yang terkenal lewat Silent Hill (2006), tidak menunjukkan akting yang maksimal.

Beredar di AS dengan judul The Children of Huang Shi, film ini sungguh mengharukan. Kekejaman perang dengan pembunuhan dan penyiksaan yang membabi buta serta anak-anak yang terlantar, menyisakan kutukan atas terjadinya perang. Di akhir film, penonton akan dapat menyaksikan testimoni beberapa orang tua yang sewaktu kecil pernah diselamatkan oleh Hogg.

Secara keseluruhan, film ini memang sangat berciri khas Spottiswoode, banyak dialog ketimbang aksinya. Bagi beberapa orang jenis film ini mungkin terasa membosankan. Namun, pencinta drama sejati sudah pasti akan menyukai film ini.(E2)

Judul Film: Escape from Huang Shi

Jenis Film / Rating: Drama / Remaja

Pemain: Jonathan Rhys Meyers, Chow Yun Fat, Radha Mithcell, Michelle yeoh

Sutradara: Roger Spottiswoode

Penulis Naskah: Jane Hawksley dan James MacManus

Produser (Produksi): Lillian Birnbaum dan Taylor Thomson (Bluewater Pictures)

Kawin Kontrak Lagi, Reinkarnasi Film Komedi China

y81lsejnwj

FILM Kawin Kontrak kembali hadir versi terbaru, Kawin Kontrak Lagi. Lagi-lagi film ini mengocok tawa dengan aksi-aksi kocak dan konyol. Plus bumbu seks dan porno yang masih dalam batas wajar.

Patut dipuji film ini jauh lebih baik dari film Kawin Kontrak pertama. Film ini memberikan karakter-karakter yang berbeda dari sebelumnya. Seperti Jody (Ricky Harun) misalnya, yang tadinya jadi pengontrak kini jadi makelar.

Karakter Kang Sono (Lukman Sardi) dibuat semakin lucu dan sok tahu. Juga menghadirkan karakter baru Bos Maung (Teno Ali) yang akan mengocok tawa penonton dengan gaya militernya dipadukan dengan gaya presenter terkini.

Film ini bercerita tentang seorang mahasiswa yang membutuhkan biaya hidup untuk dirinya dan keluarganya. Jody yang sudah berpengalaman dengan seks selalu dimintai ketiga temannya agar diajari soal seks. Berkali-kali meminta Jody, pada akhirnya Jody punya ide bahwa itu bisa menghasilkan uang.

Jody yang doyan tante bergabung dengan Kang Sono, sang makelar. Hasilnya adalah kehebohan ala Kawin Kontrak Lagi. Lebih lucu, lebih seru, lebih… gila!

Desa Pakelonan siap menampung para pejuang cinta dari kota, cewek-ceweknya lebih cantik, lebih ahli, dan lebih… matre. Plus satu bonus panas dari Teh Euis (Wiwid Gunawan).

Filma akan kurang seru kalau tidak ada rintangan pemicu konflik. Ada Bos Maung yang sangat ditakuti semua orang karena menerapkan sistem militer untuk menjalankan bisnisnya. Itu membuat satu orang calon istri kontrakan (Talaita Latief sebagai Sesi) yang paling cantik dan mahal, tidak tahan dan kabur minta perlindungan kepada Teh Euis.

Film ini mampu mengocok tawa dan menghibur. Ditambah lagi wanita-wanita penghiburnya yang cantik, bisa menyegarkan mata. Tapi, dengan aksi yang lucu dan kocak justru film ini mengingatkan pada film-film komedi China. Tak ubahnya, film itu justru seperti reinkarnasi film-film komedi China.

Kawin Kontrak Lagi sudah bisa disaksikan di bioskop mulai 27 November 2008.

Pemain:
Ricky Harun (Jody)
Lukman Sardi (Kang Sono)
Wiwid Gunawan (Teh Euis)
Teno Ali (Bos Maung)
Talita Latief (Sasi)
Aditya (Hakim)
Adella Rasya (Viva La Diva)
Deby Ayu (Kokom)
Cut Mini (Sus Miranda)

Sutradara:
Oddy C. Harahap

Produser Eksekutif:
Gobin Punjabi

Produksi:
MVP Pictures. (ang)

Married By Accident, Jangan Terprovokasi Ngeseks


SATU lagi film layar lebar dengan genre komedi dibumbui adegan seks. M.B.A. (Married By Accident) produksi Multi Vision Plus. Film yang disutradarai Winaldha E Melalota ini menghadirkan artis-artis belia seperti Nikita Willy (Ole) dan Marcel Darwin (Raskal). Mereka dituntut menghadirkan sosok Ole dan Raskal yang gagap soal seks.


Ole dan Raskal adalah dua anak ABG yang masih duduk di SMU. Mereka baru berpacaran tujuh bulan lamanya. Kakak Ole, yakni Stella (Debby Ayu) memberi pengaruh negatif. Stella sering mengundang cowok ke rumahnya, bahkan tidak malu-malu ngeseks di depan Ole.

Hal serupa juga terjadi pada Raskal yang selalu menjadi bahan olok-olok oleh kedua sahabatnya, yakni Randy (Leonil Tikoalu) dan Jojo (Rizki Putra). Keduanya sok ahli dalam urusan seks dan mencap Raskal bukan lelaki sejati jika belum pernah mengajak Ole bercinta.

Hingga di sebuah tempat, di bibir pantai -yang settingnya diambil di kawasan Anyer- Ole dan Raskal sedang asyik masyuk berduaan di dalam mobil. Saat hujan deras mengguyur kawasan itu, tiba-tiba Ole dan Raskal mempunyai hasrat melakukan hubungan badan yang selama ini didengung-dengunkan Stella, Randy dan Jojo. Didukung suasana mendukung dan hasrat kuat, akhirnya Ole ngeseks dengan Raskal di jok belakang.

Ini adalah kali pertama bagi Ole dan Raskal berhubungan seks. Lantaran berhubungan badan tanpa pengaman (kondom), kontan saja Ole hamil.

Ole menangis sekaligus marah pada Raskal mengetahui dirinya hamil, seakan tidak bisa menerima musibah yang ada pada dirinya. Mengambil keputusan untuk aborsi pun pernah akan dijalaninya. Rencana itu gagal saat dijelaskan oleh klinik khusus aborsi bahwa aborsi sangat menyakitkan. Bahkan, akan terkenang seumur hidup.

Akhirnya, Ole dan Raskal sepakat membesarkan bersama bayi yang sedang dikandung Ole.

Bagaimana Ole dan Raskal menyembunyikan si jabang bayi agar tidak ketahuan oleh masing-masing orang tuanya? Di sinilah banyak adegan-adegan lucu yang cukup menghibur penonton.

Ada pelajaran yang bisa diambil dari film ini, seperti pendidikan seks sejak dini yang harus diterapkan orang tua pada anak-anaknya agar bisa menghindari MBA seperti yang dialami Ole.

MBA dapat disaksikan di bioskop mulai 4 Desember 2008.

Pemain:
Nikita Willy
Marcell Darwin
Debby Ayu
Ikang Fawzi
Sarah Sechan
Marini Zumarnis
Tino Saroenggalo

Genre:
Drama romantis

Sutradara:
Winaldha

Cerita & skenario:
Ve Handojo

Produser:
Raam Punjabi

Produksi:
MVP Pictures.

1408


Film ini bercerita tentang seorang pria yang berprofesi sebagai pengarang novel horror. Si Michael Enslin ini diperankan oleh aktor John Cusack, salah satu aktor favoritku karena kualitas aktingnya yang sip. Meskipun Enslin ini penulis novel horror, namun dia tidak mempercayai akan adanya makhluk halus, setan, hantu, dan sebagainya. Dia berpikir dengan logika. Dalam mencari inspirasi biasanya dia mengunjungi tempat-tempat yang dikenal angker dan tinggal di sana selama semalam. Dan selama ini dia tidak pernah sekalipun mengalami pengalaman-pengalaman mistis. Hingga suatu kali dia mendapat postcard yang melarang ke ruang 1408 Hotel Dolphin di New York. Karena rasa penasaran maka si Enslin ini nekat menginap di kamar itu. Meskipun oleh Olin (Samuel L Jackson), sang manajer hotel, kamar itu terlarang bagi siapa saja namun Enslin bersikeras untuk menginap di kamar 1408.

Horror mulai tercipta saat Enslin mulai masuk di kamar itu. Konsep horror di sini cukup menarik karena tidak mengusung tema 'hantu', 'monster', dan sebagainya tapi tentang 'jahat'nya kamar tersebut yang mempengaruhi pikiran bagi siapa saja yang memasuki kamar tersebut. Suasana mencekam, pengambilan gambar , efek suara, disajikan dengan begitu apik di film ini. Sangat bagus untuk ditonton dari pilihan film horror macam kuntilanak, tali pocong perawan, dll. Hehehe...

Bukannya menjelekkan film Indonesia, karena aku juga suka nonton film Indonesia, tapi karena semakin ke sini kok semakin gak mutu film horror Indonesia. 'Kejar tayang' banget. Mumpung lagi laris.

So buat movie lovers, nonton deh film ini, '1408'...

the other boleyn girl

Saya baru saja selesai menonton film ‘The Other Boleyn Girl’. Film ini bercerita mengenai sejarah kerajaan Inggris.

Cerita berawal dari keluarga Boleyn, yang memiliki 2 orang anak perempuan, yaitu Anne Boleyn (Natalie Portman) dan Mary Boleyn (Scarlett Johansson). Suatu ketika, raja Inggris, King Henry VIII (Eric Bana) mengunjungi keluarga mereka dan beliau tertarik dengan Mary. Padahal, pada saat itu Mary sudah berstatus sebagai istri dari Stanford. Karena ini adalah permintaan raja, maka mau tidak mau keluarga Boleyn menyetujuinya. Oleh karena itu, dengan sangat terpaksa Mary Boleyn harus menceraikan Stanford dan Mary harus tinggal di istana, menjadi selir King Henry. Pada saat itu pula, Anne merasa iri dengan sang adik karena bukan dia melainkan adiknya yang membuat tertarik King Henry. Ia merasa lebih dalam segalanya daripada sang adik. Anne menyimpan dendan terhadap Mary.

Singkat cerita, Mary diboyong oleh King Henry menuju istana. Tidak berapa lama kemudian, seluruh keluarga Boleyn, termasuk si bungsu, George Boleyn (Jim Sturgess) juga diboyong ke istana. Mary akhirnya mengandung anak dari King Henry. Beliau merasa sangat bahagia karena bersama dengan Queen Katherine, tidak bisa memiliki anak. Pada saat yang bersamaan dengan kelahiran putra pertamanya, King Henry rupanya jatuh cinta dengan Anne Boleyn. Beliau tidak sekalipun menunjukkan kebahagiaannya tatkala mengetahui bahwa ia berhasil memperoleh seorang putra dan dengan teganya mencampakkan Mary demi Anne. Bahkan, demi Anne pula beliau rela menceraikan Queen Katherine (waaaw!). Sebegitu hebatnya pesona Anne.

Namun, karena keyakinannya tidak memperbolehkan King Henry untuk bercerai, beliau bahkan rela memutuskan hubungan dengan Roma. Peristiwa ini menandai berakhirnya agama Katolik di kerajaan Inggris. Hingga saat ini seluruh trah kerajaan Inggris memeluk agama Anglikan. Gila ya, hanya demi seorang wanita, raja mampu bertekuk lutut dan meninggalkan kepercayaannya. Nyata bahwa pesona wanita begitu mematikan.
Begitulah, setelah itu Mary Boleyn diusir keluar dari istana beserta putranya. Anne Boleyn hanya mau making love dengan King Henry hanya apabila beliau telah menikahinya secara resmi. Jadilah, sang raja menikahi Anne Boleyn dan diapun menjadi the new queen of England. Pada saat penobatannya, Anne dihujat oleh seluruh rakyat Inggris. ‘witch..witch..witch..’ begitu kata mereka. Anne akhirnya berhasil mengandung juga. Hanya saja, anak yang lahir adalah perempuan yang diberi nama Elisabeth. Raja tidak senang dan memaksa Anne untuk dapat memberikannya anak laki-laki supaya ada pewaris takhta. Demi memperoleh seorang anak laki-laki, Anne memaksa adiknya George untuk making love dengannya. Akan tetapi, George berkeras tidak mau melakukannya. Namun, pada saat kejadian itu, ada seorang pelayan istana yang mencuri dengar percakapan keduanya dan melaporkannya kepada raja. Kemudian, raja memerintahkan supaya George dan Anne diadili dengan tuduhan incest. Keduanya kemudian, dijatuhi hukuman penggal. Sangat menyedihkan!

Kisah ini berakhir tragis. Akhir kisah ini sekaligus mengawali berkuasanya ratu di Inggris. Ya, Queen Elisabeth I, anak Anne Boleyn, kemudian menjadi ratu Inggris yang pertama. King Henry VIII akhirnya meninggal setelah berkuasa selama 45 tahun. Hingga saat ini Kerajaan Inggris dipimpin oleh ratu. Akan tetapi, sudah pasti setelah ratu Elisabeth II meninggal nanti, kekuasaan akan beralih ke tangan seorang raja. Akankah tragedi Anne Boleyn itu akan berulang? Tidak ada seorangpun yang tahu.

Saya sangat mengagumi film ini secara keseluruhan. Akting pemainnya total sekali, terutama Natalie Portman, yang berhasil memerankan sosok Anne Boleyn dengan sangat baik. Ia berhasil menjadikan sosok Anne seorang yang smart, seorang wanita yang kuat dan tegar, tetapi pada akhirnya harus menyerah juga pada kekuasaan laki-laki. Scarlett Johansson juga berperan dengan sangat baik. Ia memerankan sosok Mary Boleyn yang lemah, innocent, dan sangat menyayangi saudara-saudaranya. Jim Sturgess, menurut saya aktingnya dalam film ini sebagai George Boleyn biasa-biasa saja. Mungkin ini berkaitan dengan perannya sendiri yang tidak terlalu penting. (Ini hanya pendapat saya saja, lho! Sorry buat para penggemar Jim Sturgess).

Lagi-lagi, sebuah film yang menampilkan wanita sebagai sosok yang lemah. Seberapapun kuatnya seorang wanita, pria tetaplah lebih kuat. Itulah yang digambarkan dalam film ini.


Quote yang terdapat pada bagian awal postingan ini diucapkan oleh Anne Boleyn. Bagi saya, adalah ungkapan terdalam dari seorang wanita yang sering dikecewakan oleh pria. Apakah memang benar bahwa ‘man’s love is worthless’? Hahaha..hanya para pria yang bisa menjawab. Saya, sebagai seorang perempuan, hanya bisa memberikan penilaian bahwa
‘Not all man’s love is worthless. It depends on the person himself.’..Kalau itu, quotes dari saya..hahahahaha..

Tanpa ragu, saya akan memberi rating 4.9/5 bagi film ini. *hehehe..nanggung ya?* Ternyata di balik sejarah kerajaan Inggris, terdapat kisah cinta yang tragis.

3 Doa 3 Cinta


Di tengah kritikan pada film terbarunya ‘Drupadi’, diam-diam Dian Sastro mendadak dangdut. Mungkinkah ia mengikuti jejak rekannya di film ‘Ada Apa Dengan Cinta?’ Titi Kamal?

Film ini mungkin belum menjadi pembicaraan, namun ‘3Doa3Cinta’ sudah mendapat tempat di Pusan International Film Festival di Korea. Sudah dipastikan penayangan perdana film ini akan dilakukan di sana. Film ini kembali memasangkan Dian Sastro dan Nicolas Saputra sebagai kekasih. Dalam film tersebut Dian Sastro berakting sebagai penyanyi dangdut keliling yang bernama Dona Satelit, sedangkan Nico berperan sebagai Huda seorang santri.

‘3Doa3Cinta adalah potret suka duka kehidupan di sebuah pesantren yang diwarnai dengan persahabatan, cinta, ibadah dan nilai kemanusian. Di film ini kita bisa lihat bagaimana Nicholas Saputra begitu menjiwai perannya sebagai seorang santri yang jatuh hati dengan penyanyi dangdut keliling, yang diperankan dengan sangat apik oleh Dian Sastro yang juga melantunkan 2 lagu dangdut di film ini,’ ucap Adiyanto Sumarjono sang produser film itu.

Selain Dian Sastro dan Nicolas Saputra, Film yang juga diramaikan oleh para seniman senior Butet Kartaredjasa dan Jajang C. Noer. Film yang disutradarai oleh Nurman Hakim mengambil lokasi syuting di Yogyakarta, Magelang dan Jakarta.

Tidak sabar menyaksikan aksi Dian Sastro berdendang? Nantikan saja tanggal mainnya!

Quantum of Solace


Film Agen rahasia terpopuler sedunia, James Bond sebelumnya yaitu “Casino Royale” adalah perjudian terbesar disepanjang sejarah film ini. Dengan pemeran Bond baru yang membawa karakteristik yang sangat berbeda dan lebih fresh dari film film sebelumnya, Daniel Craig pada awalnya mungkin sangat dipandang sebelah mata oleh setiap orang tapi apa yang terjadi kemudian adalah, “Casino Royale” menjadi sequel agen 007 dengan hasil pendapatan tertinggi alias terlaris sepanjang masa. Lantas bagaimana dengan kelanjutan serial ini? Tentunya target yang telah dicapai oleh film sebelumnya mau tidak mau adalah beban yang lumayan berat yang harus mampu disetarai ataupun dilewati oleh sequel terbaru ini, petualangan Bond yang ke 22 di layar lebar, “Quantum of Solace”.
Di siaga film kali ini, saya coba membahas film Bond terbaru ini yang memang harus disiagai dan diwaspadai jadwal tayangnya yaitu 5 November nanti di Indonesia (Moga moga ga diundurin!). Kita mulai dari judulnya kali ini, sepintas kalau didengar sih “Quantum of Solace” lumayan keren, tapi apa maksudnya menamai film Bond terbaru dengan judul ini yah? Judul ini sama sekali ga tercantum dalam salah satupun buku resmi Bond karangan Ian Fleming yang pernah beredar. Mungkin judul ini didapat dari kumpulan cerita pendek yang pernah dibuat oleh Fleming, tapi cerita pendek yang memakai judul inipun sama sekali bukan inti cerita film ini karena plot film ini sendiri sama sekali baru dan sebuah hasil karya original dari para penulis skrip. Tapi sebenarnya ngapain juga dipermasalahin yah? Setelah Bond sebelumnya sudah membuat gebrakan dengan tampilan Bond baru yang lebih radikal, ga ada salahnya juga kan kalo para pembuat film ini coba menggunakan judul yang sama sekali ga ada hubungannya dengan novel novel Bond yang telah beredar. Tul ga?

Beralih ke bahasan yang lain, Film Bond terbaru ini juga akan mempersembahkan sesuatu yang lain dari franchise Bond sebelumnya yaitu, “Quantum” adalah kelanjutan langsung dari film sebelumnya yaitu “Casino Royale” dan bukan sebuah episode tersendiri seperti petualangan petualangan agen flamboyan ini terdahulu. Plotnya akan dimulai dari satu jam setelah berakhirnya “Casino”, yaitu dimana Bond berkonfrontasi dengan Mr. White, salah seorang yang bertanggung jawab atas kematian wanita yang sangat dicintainya, Vesper Lynd. Lewat White inilah, Bond akan mengenal lebih dekat sebuah organisasi rahasia yang telah memeras Vesper dulu. Intel forensik juga melacak adanya seorang pengkhianat di tubuh MI6 hingga sebuah kasus salah identitas mempertemukan Bond dengan Camille, seorang wanita dengan masalah dendam pribadinya sendiri. Camille jugalah yang kemudian memperkenalkan Bond dengan Dominic Greene, seorang pebisnis kejam dan salah satu kekuatan utama dalam organisasi rahasia tadi. Lewat petualangan yang membawanya dari Austria, Italy hingga ke Amerika selatan, Bond harus mengungkapkan segala kepicikan Dominic dan organisasi yang berada dibaliknya. Misi Bond bukan lagi misi mata mata biasa tapi sudah semakin kepada masalah pribadi, karena dia harus menemukan dedengkot dibalik pengkhianatan wanita yang sangat dicintainya, Vesper. Tapi selama film Bond tetap menjadikan jualan utamanya aksi aksi menegangkan yang seru abis, kejar kejaran mobil tingkat tinggi, permainan kartu yang mengasikkan dan tentunya cewek cewek manis yang aduhai dan seksi. Plot itu sendiri hanya sebagai bingkai dari semua aksi menegangkan Bond tadi.

Setelah Vesper diceritakan meninggal di film sebelumnya dan ga mungkin lagi buat kita menikmati kecantikan nan eksotis milik Eva Green. Bond baru ini menawarkan pesona yang tak kalah menggiurkan dari aktris dan model asal Ukraina Olga Kurylenko sebagai Camille, seorang mata mata Rusia-Bolivia yang diceritakan berseteru pada awalnya namun ujung ujungnya (tueteep) jadi pendamping Bond dalam setiap aksinya di luar maupun di dalam kamar. Ada juga aktris asal Inggris Gemma Artenton sebagai salah satu pemanis dari keagenan MI6.

Skrip kali ini masih tetap digarap oleh tim yang sama yang membuat “Casino Royale” kemarin, tapi satu hal yang cukup menarik adalah sutradaranya Casino yaitu Martin Campbell yang telah dua kali menyutradarai film Bond tidak akan kembali di sequel terbaru ini, dan posisinya digantikan oleh sutradara asal Swiss, Marc Forster yang sebelumnya lebih dikenal sebagai pembuat film drama seperti “Finding Neverland” dan “Monster’s Ball” yang pernah masuk jajaran film terbaik di kompetisi Oscar. Walaupun pemilihan Forster cukup bikin garuk kepala karena sutradara ini sama sekali belum pernah megang film sekelas aksi Bond begini, moga moga lewat pengalamannya menyutradarai drama drama berkelas tadi, Forster mampu memberi sentuhan yang lebih berwarna di Bond baru ini.
Jadi, apa lagi yang bisa kita harapkan di film Bond terbaru ini? Well, dijanjikan sih film ini bakal menyajikan adegan action khas Bond yang suka muncul sebelum opening credits sebagai adegan action terpanjang dalam sejarah film Bond. Katanya sih durasinya hampir mencapai 30 menit dan melibatkan pertarungan di udara dengan menggunakan helicopter dan jet Harrier. Film ini juga akan mempertontonkan berbagai gadget canggih andalan Bond yang lumayan absent dan ga terlalu banyak ditampilkan di “Casino”. Daniel Craig juga akan tetap menampilkan sosok Bond yang keras dan garang, si susah diatur yang bakal membuat hubungannya dengan M agak agak bersitegang.
Sekarang tinggal kita menunggu hasilnya November nanti, mampukah film ini menyetarai bahkan mengungguli performa luar biasa “Casino Royale” sebelumnya? Coba cek dulu trailernya dibawah ini yang menurut gue sih tampaknya filmnya masih berpeluang besar untuk sukses dengan tampilan adegan adegan aksi yang super seru dan tata kamera canggih yang menampilkannya dengan sangat baik. Pokoke Bond baru dijamin seru..

Bangkok Dangerous: Kalo Pembunuh Bayaran Jatuh Cinta

Satu peluru, satu tembakan, dan satu nyawa melayang. Apa benar semudah itu kerja pembunuh bayaran?

Pekerjaan yang tampaknya nggak ada dI daftar cita-cita seorang anak muda adalah menjadi pembunuh bayaran. Meski nggak bisa kita pungkiri kalo profesi ini ada di sekitar kita dan kita nggak bisa tutup mata.

Profesi ini ada hubungannya sama film yang akan kita omongin, Bangkok Dangerous. Ini adalah film drama action terbaru yang dibintangi oleh Nicholas Cage.

Joe adalah nama karakter utama di film itu. Diperankan oleh Nicholas Cage, Joe adalah seorang pembunuh bayaran berdarah dingin. Mengetahui target, menerima uang muka, menghabisi target, dan menerima sisa pembayaran. Inilah rutinitas dia selama bertahun-tahun.

Bekerja dengan cepat dan rapih tak berjejak, membuat reputasinya sebagai pembunuh bayaran semakin disegani. Berbagai bos besar menjadi kliennya. Banyak nyawa melayang di tangannya.

Kali ini Joe dikontak oleh seorang cukong bernama Surat. Dia adalah bos dari sindikat penjahat yang terkenal karena kebengisannya. Doi menyewa Joe untuk melaksanakan membunuh empat orang musuhnya.

Berhubung targetnya ini berada di Thailand, maka terbanglah Joe ke negeri gajah tersebut untuk menyelesaikan kontraknya.

Untuk memudahkan misinya, Surat menyewa Kong, seorang anak punk jalanan yang biasa menyambung hidup dengan menyopet untuk berhubungan dengan Joe. Untuk menghilangkan jejak, Surat berencana membunuh Kong di akhir misinya.

Pekerjaan yang seharusnya berlangsung dengan cepat ini ternyata nggak berjalan semulus itu. Target nggak bisa langsung dihabiskan, sehingga Joe harus sedikit menunggu. Nah, dalam masa penantian eksekusi ini, hubungan Joe dengan Kong berkembang bak partner lama. Joe berperan sebagai instruktur yang selalu siap membimbing Kong dalam menjalankan tugas dengan baik.

Bukan cuma itu, dalam masa menunggu ini, Joe bertemu dengan seorang gadis lokal dan cerita baru pun dimulai.

Rupanya kemolekan paras gadis Asia ini membuat dirinya terpincut. Cinta lokasi pun terjalin antara Joe dan gadis yang berprofesi sebagai penjaga toko itu.
Karakter Joe yang sebelumnya pendiam dan tertutup perlahan-lahan berubah. Joe yang dingin perlahan melunak. Dan di saat dia sedang terbuai dengan cintanya, perintah dari Surat untuk menyelesaikan tugas sampai kepadanya. (erick)

Pemain: Nicolas Cage, Shaun Delaney, Steve Baldocchi, Chris Heebink, James Wearing Smith
Sutradara: Oxide Pang, Danny Pang
Produksi: Lionsgate

Laskar Pelangi


novel-_laskar_pelangi1.jpgIni adalah kisah heroik kenangan 11 anak Belitong yang tergabung dalam ”Laskar Pelangi”: Syahdan, Lintang, Kucai, Samson, A Kiong, Sahara, Trapani, Harun, Mahar, Flo dan sang penutur cerita – Ikal. Andrea Hirata, yang tak lain adalah Ikal, dengan cerdas mengajak pembaca mengikuti tamasya nostalgia masa kanak-kanak di pedalaman Belitong yang berada dalam kehidupan kontras: kaya dengan tambang timah, tapi rakyatnya tetap miskin dalam kesehariannya.

Ini adalah cerita tentang semangat juang menyala-nyala dari anak-anak kampung Belitong untuk mengubah nasib melalui sekolah, yang harus mereka dapat dengan terengah-engah. Sebagian besar orang tua mereka lebih suka melihat anak-anaknya bekerja membantu orang tua di ladang, atau bekerja menjadi buruh kasar di PN Timah, daripada sekolah yang tak jelas masa depannya.

Derita sekolah itu tergambar jelas ketika SD Muhammadiyah di kampung miskin itu terancam tutup kalau murid baru sekolah itu tidak mencapai 10 orang. kesebelas anak itulah yang telah menyelamatkan masa depan suar pendidikan yang hampir redup digilas ekonomi.

Kesebalas anak itu memiliki keunikan masing-masing. Diantara 11 anak Laskar Pelangi itu, Lintang dan Mahar adalah 2 diantara yang paling menonjol. Lintang jenius dalam bidang eksakta, Mahar ahli di bidang seni budaya. Mereka seolah mewakili otak kanan dan otak kiri manusia. Lintang memiliki semangat juang yang tiada tara dalam belajar. Dia rela menempuh perjalanan dengan kereta angin sejauh 80 km pergi pulang demi dapat memuaskan dahaga ilmu pegetahuan. Saking semangatnya hingga akan tercium karet terbakar dari sepatunya yang aus digerus pedal sepeda. Jika ada aral melintang di jalan dan terlambat sampai sekolah, tiada masalah baginya, asal dapat menyanyikan lagu ”Padamu Negeri” pada akhir jam pelajaran.

Novel Laskar Pelangi penuh dengan taburan wawasan yang luas bak samudra dari penulisnya yang paham betul tentang ilmu eksakta, seni budaya, dan humaniora. Kita akan dibuat tersenyum geli dari humor kecil yang dilontarkannya, terharu dan bahkan menangis ketika membaca kisah heroik kesebelas anak Laskar Pelangi.

Filicium adalah pohon yang menjadi saksi seluruh drama kehidupan Laskar Pelangi. Pohon itu menaungi sekolah mereka yang hampir roboh. Pohon itu menjadi markas setiap pertemuan mereka: membicarakan soal-soal di sekolah, merancang karya untuk festival 17 Agustus, atau tempat Lintang memberi kuliah tentang ilmu fisika. Pohon itu pulalah yang menjadi saksi kerinduan Ikal pada gadis manis keturunan cina, anak pemillik toko Sinar Harapan yang memiliki jari lentik dan kuku cantik.

Anak-anak Laskar Pelangi itu hidup dalam kebahagiaan masa kecil dan menyimpan mimpi masing-masing untuk hari esok. Tapi siapa yang sanggup melawan sang nasib? Dua belas tahun kemudian, Ikal menyaksikan perubahan nasib teman-temannya yang sungguh diluar dugaan. Sang nasib sungguh menjadi sebuah misteri yang maha gelap. Anak-anak Laskar Pelangi itu boleh punya cita-cita setinggi langit, tapi nasib jualah yang menentukan episode kehidupan mereka selanjutnya. Sang nasib bisa jadi adalah ketiadaan kepedulian pemerintah akan bibit-bibit unggul mutiara anak bangsa yang harus terhempas oleh himpitan ekonomi. Mereka adalah anak-anak harapan bangsa yang terpaksa harus tunduk oleh gilasan nasib yang semestinya bisa diupayakan oleh pemerintah yang punya amanah dan kuasa untuk memajukan pendidikan.

Lintang, sang jenius itu misalnya kini harus terpuruk jadi sopir tronton karena harus menjadi tulang punggung keluarga, menjadi pengganti ayahnya. Tapi Lintang punya jawaban, ” jangan sedih Ikal, paling tidak aku telah memenuhi harapan ayahku agar tidak jadi nelayan….” Bagi Ikal, kata-kata itu semakin menghancurkan hatinya, ia marah, kecewa pada kenyataan begitu banyak anak pintar yang harus berhenti sekolah karena alasan ekonomi. Ia mengutuki orang-orang bodoh sok pintar yang menyombongkan diri, dan anak-anak orang kaya yang menyia-nyiakan kesempatan pendidikan.

Kekuatan novel ini terletak pada sentilan humaniora tentang pentingnya pendidikan sekolah dan sekaligus kuatnya moral agama. Novel ini wajib baca bagi generasi muda yang terlena dengan gelimang kemudahan ekonomi dan tak lagi kenal jerih payah untuk menggapai masa depan. Novel ini juga wajib baca bagi para pendidik, bagi pemerintah yang selalu alpa pada pentingnya pendidikan. Buah dari kealpaan itu diantaranya adalah, kini kita menjadi bangsa yang sering menjadi bahan olok-olok oleh bangsa lain, karena kita rajin mencetak manusia yang tak punya kualitas.

Kelemahan novel ini, menurut saya, hanya terletak pada cara mengakhiri cerita. Semestinya, novel ini sudah ditutup pada bab 33: Anarkonisme, yang menceritakan kejatuhan Babel (Bangka Belitung) yang dulu bergelimbang Timah. Bab 34: Gotik, menurut saya menjadi ekor cerita yang membingungkan. Karena penutur ”Aku” secara tiba-tiba menjadi orang lain, dan bukan lagi Ikal. Bab 34 ini menjadi sebuah kemubaziran. Sama persis seperti seorang pelukis yang seharusnya berhenti menguaskan catnya pada bidang lukis yang sudah sempurna, tapi kemudian menjadi berantakan karena sebuah goresan yang tidak perlu.

 
Copyright 2009 www.film-top.blogspot.com. All rights reserved.
Free WordPress Themes Presented by EZwpthemes.
Bloggerized by Miss Dothy